Sunday, December 30, 2012
Tuesday, November 27, 2012
jika matamu sudah enggan melirikku, mungkin aku harus menutup mataku.
jika kamu tak biarkan lagi aku menyentuhmu, mungkin aku harus mengikat tanganku.
karena apalah artinya diriku
yang kecil ini dihadapanmu, sayang?
karena apalah artinya aku membesarkan hatiku, jika kamu enggan berada di dalamnya?
jadi, jika senyum manismu tak terbentuk lagi untukku, mungkin aku harus menelan pahit air mataku.
jika hadirku mengusikmu, mungkin aku harus berlalu darimu.
jika bayangku adalah benalu bagimu, mungkin aku harus menarik sendiri hidupku darimu.
namun, jika kamu inginkan bayangmu hilang dari kepalaku dikala sepi malamku,
ketahuilah,
mungkin tak akan pernah aku mengabulkan permintaanmu yang satu itu.
(post ini di request oleh Dharu. dia mintanya sajak move on, tapi entah kenapa saya bikinnya sajak gagal move on... :"))
Monday, November 26, 2012
another runaway
Saturday, November 24, 2012
jailed mind, jailed thoughts.
kadang menulis menjadi pelarian saya. ketika saya tidak tahu kemana lagi harus melangkah, ketika hari-hari terlalu berawan, saya menulis sebentar untuk mencari
terlebih disini.
tetapi, kadang, ketika saya sibuk berlari dari hari-hari yang sumpek, saya bisa sangat ketakutan untuk berlari ke sini. entah kenapa.
saya menulis semuanya disini, banyak sekali, dan kebanyakan berakhir menjadi draft, paling parah: saya hapus. saya menulis banyak sekali, saya ingin mempublishkan mereka semua, tetapi tiba-tiba saya menjadi orang yang sangat tidak konsisten.
saya menulis untuk dibaca, saya diam namun masih ingin untuk dibaca. saya berbisik banyak, saya ingin mereka tahu semuanya, tetapi saya tidak ingin semuanya tahu. saya begitu berani untuk menulis, saya begitu pengecut untuk menekan tombol publish. ruwet.
ya... kadang saya hanya butuh satu orang yang dengan sabar mendengarkan saya berkata-kata. hanya memasang telinganya. mungkin kalau bisa, saya akan membelah diri menjadi dua, jadi bagian saya yang lain bisa mendengarkan saya, sebanyak apapun yang akan saya katakan, setidak penting apapun hal yang saya bahas, saya akan bercerita apapun kepadanya tanpa sungkan, tanpa merepotkan orang lain, cukup dia saja yang menemani saya, dan ia akan selalu ada mendengarkan saya. lalu tahu-tahu saya sudah berada dipelukannya. lalu kami jadi satu tubuh lagi.
hmmm...
sayangnya, senaif-naifnya penulis, sejinak-jinaknya pikiran pembaca, sebuah blog tidak bisa memeluk penulisnya sendiri.
seandainya manusia tidak seserakah itu.
ya sudahlah.
*peluk diri sendiri*
PS: tolong, anggap aja saya nggak ngepost apa-apa di sini.
Friday, November 23, 2012
it might not be the right time...
I've never mentioned my favourite song before... so here it is.
The song was originally sung by Daft Punk, but the song cover came up to me first. And I like it more than the original one. Nothing special about the song––well, there was and it was pretty sad––but I really like it, and it is a very beautiful song cover.
The song is covered by BMX Bandits.
Saturday, October 27, 2012
self portrait V
Agak sumpek dengan rutinitas kuliah... lalu lahirlah ini.
| watercolor and pencil on 200 gsm watercolor paper. |
Wednesday, October 3, 2012
Fatamorgana
Air di tengah gurun saya sudah menjadi sebuah fatamorgana. Ia hilang, bukan habis: ia dalam zona maya mata saya. Dan saya kehilangan akal mencarinya, membawanya kembali, karena ia datang karena ia memilih untuk datang, bukan karena saya mencarinya dan memintanya datang. Walaupun begitu, karena besar harapan saya ia akan datang lagi, maka sebuah waduk kosong saya persiapkan untuknya.
Waktu berlalu, ia tak kunjung datang. Banyak hujan datang dan pergi, dan kerap kali air hujan mengisi waduk itu, waduk itu kosong kembali dengan cepat, karena memang bukan sembarang air hujan bisa mengisi waduk itu.
Waktu berlalu, saya pikir ia memang cuplikan fatamorgana. Fatamorgana adalah rupa aslinya, keberadaannya adalah maya. Saya tidak tahu, saya bingung. Saya terlalu haus untuk berpikir rasional.
Waktu berlalu, ternyata ia memang nyata. Bedanya kini ia mengisi waduk di gurun tetangga. Dan air gurun tetangga selalu lebih biru daripada air di gurun sendiri. Lebih tepatnya saya tidak punya setetes air pun untuk dibandingkan. Ia lebih memilih untuk mengisi waduk yang lainnya. Saya kehilangan air ajaib saya.
Pada akhirnya, saya hanya bisa melihatnya dari sini. Melihat betapa bangganya ia memuaskan dahaga pemiliknya yang baru. Mengelus sabar tenggorokan ini yang semakin hari semakin kering. Memandangi air ajaib, yang dahulu milik saya, yang kini benar menjadi fatarmorgana nyata.
Namun dengan memandangi saja tidak melegakan dahaga.
Namun saya terlalu haus untuk berpikir rasional.
Friday, September 28, 2012
Hei Kawan
Mengapa kau sendiri? Kau rengkuh dirimu dan menangis. Kau hapuskan sendiri air matamu, ubahnya menjadi seutas senyum, walau terpaksa. Sakit.
Dan tak kau ijinkan mereka membentangkannya daripadamu, tak kau biarkan mereka menyentuh, karena tak satu pun berhak, tak satu pun dapat percayamu. Karena apalah arti mereka bila benar tak ada disana.
Karena hanya kita sosok nyata, bahagia... dalam fana kita sendiri. Karena fana adalah nyata yang baru, dan nyata adalah mereka yang kembali fana dan mereka kejam.
Dan rumah bukan lagi tempat kita mengadu, bukan lagi tawa dan damai: karena mereka disana.
Dan tak kau ijinkan mereka membentangkannya daripadamu, tak kau biarkan mereka menyentuh, karena tak satu pun berhak, tak satu pun dapat percayamu. Karena apalah arti mereka bila benar tak ada disana.
Karena hanya kita sosok nyata, bahagia... dalam fana kita sendiri. Karena fana adalah nyata yang baru, dan nyata adalah mereka yang kembali fana dan mereka kejam.
Dan rumah bukan lagi tempat kita mengadu, bukan lagi tawa dan damai: karena mereka disana.
Friday, September 21, 2012
k a b u r
kedua mata memandang ke arah
yang k a b u r
bahkan tak bisa menyadari warna
cerahnya pagi hari ini
permukaan ini serasa tiada rasa
tidak bisa menjamah
dinginnya hawa yang berusaha
menggelitik
berusaha masuk dalam celah
lengan-lengan yang berusaha memeluk
satu sama lain
yang k a b u r
bahkan tak bisa menyadari warna
cerahnya pagi hari ini
permukaan ini serasa tiada rasa
tidak bisa menjamah
dinginnya hawa yang berusaha
menggelitik
berusaha masuk dalam celah
lengan-lengan yang berusaha memeluk
satu sama lain
Thursday, April 5, 2012
Markus Feehily
| my first black and white drawing. |
His name is Markus Feehily. You might know him as one of the member of Irish boy band, Westlife. Yes, he is Mark. And he is the only member that I idolized. From the beginning of Westlife's carrier until now.
Two things that I love about him is: his voice and his eyes.
They are so beautiful.
Saturday, March 31, 2012
washed away
![]() |
| done with water color |
It's been a long time since the last time I posted my drawings... Actually I have one drawing that I've made before this, but I decided to not show it on public for some reasons. I will post it
Thursday, March 29, 2012
Angin.
Angin barat pagi ini sangat sejuk. Sudah cukup lama ia bertiup, namun baru akhir-akhir ini saja ia menjadi kesukaanku. Angin yang sangat menyejukkan. Lembut dan nyaman. Tetapi kadang hembusannya terlalu dingin juga.
Angin akan pergi, ia akan kembali. Datang tanpa harapan, kembali tanpa janji. Tak teterka, tak terbaca. Wujudnya tak terlihat, namun dapat terasa.
Yang jelas di sini terlalu panas, hidup terlalu jenuh penuh rutinitas. Aku rindu anginku.
Jadi, ini rencanaku :
Apabila ia lewat sebentar, akan ku kumpulkan semua keberanianku. Aku akan mengajaknya tinggal di sini sebentar. Tidak peduliku ia (mungkin) menolak. Atau akan pergi lagi, kali ini untuk selamanya. Dan kacaukan hidupku. Dan tidak akan kembali ke sebelah timur pulau ini. Dan panas gersang akan datang lagi ke sebelah timur pulau ini.
Tidak apa. Setidaknya akan kusampaikan dulu perasaanku padanya
agar ia tahu :
ia angin kesukaanku.
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)