Sunday, October 18, 2015

10/18/2015

Di ruang yang penuh sesak, kamu berdiri di tengahnya. Sakit menghujam kepalamu. Sudah kamu katakan kepada semua untuk meninggalkanmu sendiri. Namun bukannya sepi, malah ruang ramai dan menjadi semakin sempit.

Semakin sakit, entah dari cengkraman di perutmu, atau teriakan sepi yang merangkak dari dasar tenggorokanmu. Mungkin juga hantaman di kepalamu. 

Pejamkan mata, kamu berharap dengannya akan kurangi sakitnya. Namun bukannya menjadi lebih baik, ruang di sekitarmu pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Pecah, lalu jatuh perlahan-lahan.

Tidak menjadikannya semakin baik, kamu heran, kenapa kamu juga tidak pecah bersama ruang? Kenapa kamu juga tidak hancur seperti serpihannya yang jatuh ke dasar lantai?

Lalu ruang lama-lama menjadi putih, dengan kamu berada di tengahnya. Ruang yang kini putih, menjadikannya tampak luas, namun tetap mencekik. 

Dan kamu masih berharap kamu terurai dan hilang bersama yang dulunya sekitarmu.

Tuesday, September 1, 2015

permohonan

Aku tidak ingin bernafas
Aku tidak ingin berdarah

Jika memang harus demikian
Baiklah aku lebur dengan deru ombak
atau bergulir bersama pasir pasir
ketika air mengalir

Baiklah aku menyepoi nyiur dan laut
dan juga pipimu

Jika memang harus demikian
Baiklah aku terhenti sebelum berdetak
ditangisi sebelum sempat menangis
dan mati sebelum lahir

Baiklah tak ada hidup raga
daripada ada mati jiwa

Baiklah kucari maut berjaga
dan kurangkul mesra ia

Aku tak mau bernafas
Aku tak mau berdarah

Sunday, July 26, 2015

15 Mei 2015, ditengah kecelakaan bus.



Aku mengusap lengan kiriku, gelisah. Kurasakan bagian dalam lenganku yang terasa kasar. Bekas suntikan seminggu yang lalu memang sudah tidak lagi berbekas, namun kuperhatikan pembuluh darahku yang pecah masih memberikan bekas yang samar, walau tidak sejelas hari-hari kemarin. Kuusap pelan bekas luka lainnya, yang nampaknya sudah mengering, berharap jika semakin lama kuusap, akan semakin cepat bekas-bekas luka ini hilang.

Sebenarnya tidak ada hal tertentu yang membuatku gelisah ataupun sedih, tetapi rasanya aku pun tidak sedang merasa senang. Herannya, pun tidak berharap aku merasa demikian.

Malam semakin larut, walaupun tidak semakin gelap. Jalanan sepi dan bis yang kutumpangi masih bergeming dari tempatnya. Di dalam bis yang hanya menyisakan 8 penumpang, aku hanya memandangi lampu bis yang dibiarkan menyala oleh penumpang yang duduk di depanku. Walaupun begitu, supir bis tidak menyalakan lampu utama bis yang berada di tengah, sehingga entah mengapa, apapun yang terlihat oleh mataku hanyalah warna hitam dan putih, serta gradasi antara keduanya. Bahkan setelah bis ini bertabrakan pun, supir tetap tidak menyalakan lampunya.

Dengan semua yang terjadi di sekelilingku, nyeri di kepalaku semakin terasa menusuk ke dalam. Aku bisa saja tidur sambil menunggu bis pengganti datang, tetapi mataku memutuskan untuk terjaga. Kuraih ponselku dan kunyalakan tanpa membuka tampilan kuncinya. Sepuluh lewat tiga puluh empat, mungkin ia sudah terlelap.

Kupejamkan mataku, dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja. Kuulangi berkali-kali, seperti jika aku mengatakannya terus menerus, aku akan menuruti perkataanku sendiri. Alih-alih, kurasakan badanku menolak sugestiku sendiri. Kepalaku semakin terasa sakit dan kini aku merasa leherku tercekat. Aku merasa ruang yang berada jauh di sekitarku semakin melebar, sedangkan ruang yang berada di sekelilingku semakin menyempit.

Aku tahu aku tidak baik-baik saja.


Wednesday, May 6, 2015

05/06/2015

Di manakah kau letakkannya?
Aku menahu, ingin rasanya.
Karena jika tentangmu,
padaku kusematkan tempat yang eloknya takkan jemu.
Karena akhir yang kuharap,
hendaknya pun memang benar ke sanalah kakiku berderap,
bersama.

Maka, mari, duduklah yang manis,
sembari kita nikmati camilan segala jenis
dan berdebat tentang hujan,
atau tentang pantai di bawah terang bulan,
lalu sementara kita menikmati waktu,
kucuri sedikit simpul indah itu
dan kusematkan lagi diam-diam,
dan reguk indah yang bersuam.

Lalu di manakah kau letakkannya?
Karena aku menahu, ingin rasanya.

Saturday, April 4, 2015

soteriophobia//monophobia




tak seharusnya hidup karena ramai, tetapi hidup karena lengang.
tak seharusnya bermodalkan orang orang ganjil, tetapi bagaimana menjadikan diri genap.
tak seharusnya eksistensi wajah-wajah itu jadikan diri nyata.
karena berakar bersama tanah itu melelahkan, dan setengah mati menggilai sinar matahari akan berujung pada membunuh diri.
karena orang lain dapat lepas dan pergi
tetapi tidak diri sendiri.

sudah terlanjur aku mengapung disini,
jadi lepaskan...

dan lepaslah.