Monday, December 8, 2014

12/08/14

anjing meraung di dalam saung
tanpa tuan, tanpa cumbuan
lalu kepada siapa setianya bersapa?

jadi bunuh saja ia dengan duaja
yang kau angkat dengat cangkat!
dan congkak!

peduli apa kau pada gempa?!
peduli apa kau tentang campa?!
peduli apa kau akan sampa
yang dengan rancap pada kakinya tertancap?!



lebih baik bunuh saja ia!

lebih baik bunuh saja ia!



Tuesday, December 2, 2014

mata dan cahaya (atau mungkin bukan)



Ketika cahaya tak lagi pangkai, musnah, dan membangkai, mungkin mata tidak akan berwalang hati. Ia akan beradaptasi, dan dengan gelap ia akan sehati.

Apa yang dijamah kegelapan, masih dapat ia nampak dengan kecakapan.

Nihilnya cahaya tidak akan melintangnya. Nihilnya cahaya tidak akan usiknya.






Atau mungkin sejak asal, bukanlah cahaya yang mengawal?

Lalu ia tiada sesal...


Wednesday, November 26, 2014

11/26/2014 - pagi buta dan terjaga.

Selamat tidur.

Dan kuharap lebah beracun tidak mengganggu tidurmu.
Atau hujan yang turun pun guntur yang bergemuruh,
kencang dan ricuh,
tidak membuat resah hatimu.

Atau mungkin kau sudah terlelap
dan tak indahkan mereka?

Baguslah.




Tidak,
semua baik, kurasa.


Selamat malam.

Sunday, November 23, 2014

10/26/2014

ketika hujan turun,
dan musik masih bermain
manusia manusia bersenandung
bersama
dan lengan-lengan yang memeluk
serta jemari-jemari yang bertaut

dan jika itu semua selesai
yang tertinggal hanyalah
memori yang pun ditinggalkan pemilik-pemiliknya
sendiri, di sudut rumahnya masing-masing
atau mungkin di bak sampah depan rumah


namun tidak denganku.



aku rindu kamu.



Friday, October 3, 2014

10/02/2014



Suatu saat, saya akan lelah.

Saya akan berhenti memikirkan keindahan bulan, dan memujanya setiap malam. Saya tak akan lagi terlena dan berhenti di setiap persimpangan jalan, hanya untuk mengagumi keindahannya. Saya akan berhenti menganggapnya matahari malam, yang selalu mendekap hangat dikala bunga tidur menghampiri. Saya tidak akan lagi bersedih ketika menyadari bayangan bumi menyembunyikan pantulan indah sinarnya.






Suatu saat, saya akan lelah, bahkan untuk terus bermimpi,
karena tak pernah saya dapati manusia yang menjadi matahari.



Sunday, September 21, 2014

hamur hancur





tidak akan dapat hangat 
dalam dinding dan kasur
tidak selalu temu aman
antara tanah dan atap
tidak akan terima nyaman
saat bangun dan tidur
tidak ada rindu
di sela pulang dan pergi



namun jika aku pergi,
takkan lagi aku kembali.



Tuesday, May 20, 2014

Pada akhir baris-baris...




                                                 lamun yang menganga
                                          pada langit yang memangku

                         pada kata-kata yang tertahan kemarin
         sehingga jika kau dapati aku bersenandung sendu

                                                                            maka
                           salahkan saja rindu yang bertamu



Wednesday, April 23, 2014

"what is it like?" you asked.



well,

it's like writing on a blank sheet of paper with a jammed pen, a pen that might either still have loads of ink on it, or it's running empty.

and you try to write something with it, but there is nothing to come out but some unseen marks,
which, only when you touch it, you will know, that you are scratching the paper, rather than trying to write something on it.

and you keep pushing it,
until finally,

either the pen is working, and (finally) leaves visible marks on the paper,

or, you rip the paper, and leave the paper worthless to be written on.







Sunday, April 20, 2014

highway romanticism




(*) kalau memungkinkan, sebelum membaca postingan dibawah, silakan dimainkan videonya, dan segera diberhentikan sebentar dan mohon tunggu sampai bufferingnya selesai. kalau sudah selesai, mainkan lagi videonya, dan Anda bisa memulai membaca post ini. biar apa? ya biar enak aja sihmungkin supaya moodnya dapet. hehe.





Aku selalu menyukai perjalanan malam hari di jalan tol. Aku selalu suka memandangi lampu-lampu penerangan yang berdiri di tengah jalur, juga lampu mobil-mobil yang berlalu lalang, sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Menurutku, mereka adalah kombinasi terindah.


---

Malam itu, terminal satu tampak begitu asing bagiku. Rasa asing ini memang seharusnya terasa wajar, karena aku pun baru pertama kali menjejakkan kakiku di sini, setelah sekian lama. Aku menyusuri koridor terminal, sambil melihat ke sekelilingku, berusaha mencari pintu keluar. Malam itu, taman di sekitar terminal menguatkan petrichor, membuatku nyaman, dan sebenarnya ingin berjalan melalui koridor terminal ini lebih lama lagi. Namun, aku rasa, aku pun tahu bahwa ada alasan yang lebih kuat untuk bergegas mencari pintu keluar dari terminal ini.

Pintu keluar terminal satu kini hanya selisih beberapa meter dari kakiku, namun aku memilih bergeming. Melihat melalui pintu kaca itu, aku mencari. Di antara orang-orang asing di sekitarku yang berlalu keluar, akhirnya mata kita bertemu. Akhirnya aku merasa familiar.

Aku pun segera keluar, dan mencari titik temu kita, dan aku yakin saat itu kamu pun sedang melakukan hal yang sama. Di antara hiruk pikuk orang-orang yang menyambut kedatangan orang-orang yang mereka kasihi, kita akhirnya menemukan titik itu: kita akhirnya bertemu, untuk pertama kalinya, secara sadar, secara nyata. Senyum yang seharusnya terasa asing, jabat tangan yang kaku, perkenalan yang tidak perlu, namun hanya melihat sosokmu di ruang itu, aku menemukan ikrab itu. Takjub dan gembira, momen-momen itu serasa blur bagiku antara yang mana yang real dan surreal.


---

Malam itu, kami melalui tol yang cukup panjang untuk mencapai pusat kota. Lampu-lampu penerangan tidak menjadi satu-satunya sumber cahaya untuk menerangi jalan tol itu. Lampu dari gedung-gedung pencakar langit ibukota, tampaknya ikut berlomba berebut perhatian pengendara mobil yang sedang melintasi jalan tol itu---walaupun sedikit terhalang oleh asap polusi kendaraan.

Malam itu, rasanya banyak sekali pertanyaan yang aku lontarkan untukmu, dan kamu pun sebaliknya. Kadang kita menanyakan pertanyaan di saat yang sama. Dan juga banyak jawaban, dan tentu juga banyak cerita, yang mungkin terlalu banyak untuk diceritakan saat itu juga. Kita hanya mencoba mengejar ketertinggalan kita, sambil bertukar canda, bertukar tawa, pun bertukar hening.







"Akhirnya ketemu juga, ya," katamu, memecah keheningan yang gagal menjalar di spasi kita. Aku melihat ke arahmu, dan kamu tersenyum ke arahku, yang membuat aku spontan tersenyum juga.

"Iya," jawabku. Aku melihat ke arah jalan, namun samar.

"Akhirnya ketemu juga," ulangku, seperti menyadarkan diriku sendiri bahwa momen ini nyata, dan aku, dan kamu, benar berada di dalamnya.



Malam itu, aku kehilangan minatku pada suasana jalan tol yang semestinya aku nantikan. Tentu saja, karena ada hal lain yang lebih indah dari itu semua.