Wednesday, October 3, 2012

Fatamorgana







Air di tengah gurun saya sudah menjadi sebuah fatamorgana. Ia hilang, bukan habis: ia dalam zona maya mata saya. Dan saya kehilangan akal mencarinya, membawanya kembali, karena ia datang karena ia memilih untuk datang, bukan karena saya mencarinya dan memintanya datang. Walaupun begitu, karena besar harapan saya ia akan datang lagi, maka sebuah waduk kosong saya persiapkan untuknya.

Waktu berlalu, ia tak kunjung datang. Banyak hujan datang dan pergi, dan kerap kali air hujan mengisi waduk itu, waduk itu kosong kembali dengan cepat, karena memang bukan sembarang air hujan bisa mengisi waduk itu.

Waktu berlalu, saya pikir ia memang cuplikan fatamorgana. Fatamorgana adalah rupa aslinya, keberadaannya adalah maya. Saya tidak tahu, saya bingung. Saya terlalu haus untuk berpikir rasional.

Waktu berlalu, ternyata ia memang nyata. Bedanya kini ia mengisi waduk di gurun tetangga. Dan air gurun tetangga selalu lebih biru daripada air di gurun sendiri. Lebih tepatnya saya tidak punya setetes air pun untuk dibandingkan. Ia lebih memilih untuk mengisi waduk yang lainnya. Saya kehilangan air ajaib saya.

Pada akhirnya, saya hanya bisa melihatnya dari sini. Melihat betapa bangganya ia memuaskan dahaga pemiliknya yang baru. Mengelus sabar tenggorokan ini yang semakin hari semakin kering. Memandangi air ajaib, yang dahulu milik saya, yang kini benar menjadi fatarmorgana nyata.
Namun dengan memandangi saja tidak melegakan dahaga.
Namun saya terlalu haus untuk berpikir rasional.



No comments:

Post a Comment