angin berhembus cukup kencang pagi itu
belum waktunya, tapi mentari sudah bersinar terik
atap terop mengibas tanpa arahan
sementara besi besi yang menopangnya tetap tak bergeming
banyak yang datang, ratusan
sedikit yang benar benar kehilangan
pemimpin Gereja mulai menyebut beberapa angka
petikan gitar terdengar setelahnya
semua bernyanyi, menatap buku pujian
sesekali mengawasi ibunda
petugas mulai memindahkan bambu penopang
dan peti pun masuk ke dalam bumi
taburkan bunga dan ucapkan selamat tinggal
pekikan sang ibunda yang menghambur di udara
"Tika, Mama mau nyusul kamu!"
banyak tangisan pecah, iba dalam mata mereka
lalu banyak yang beranjak, cerita tentang
kepergiannya pun mengiringi
dan ibunda masih berdiri, sendirian
menangis.