Sunday, September 25, 2016

Embong Malang, 240916

Bulan tidak muncul malam ini
Langit yang merah, bibir yang pucat
Gang sempit yang dihimpit gedung tinggi
yang megah, terang, dan penuh harapan
Gang sempit ini seperti sudah mati
Dan seluruh isinya yang tercekik
Tapi bukankah kita semua bermimpi?
Bukankah kita semua berusaha?
Sekalipun tak dihiraukan
atau didengar.

Motor tetap melaju kencang
Di atas paving yang berantakan
Entah kemana gang ini menembus
Tak masalah jika kau tak di sana
Gang sempit ini sudah mati
Dan mungkin juga aku



Friday, September 16, 2016

160916

Seperti kata yang terbujur kaku di ujung lidahku,
Seperti wangi yang tak pernah bisa kusimpan rapi di dalam ingatanku,
Seperti foto yang tersimpan di memoriku namun tak dapat aku temukannya,

Kau,

Yang masih nihil dalam realita.
Kabur dan abu, bebas dan liar
Di tepi batas gulana, potongan dirimu masih tersusun rapi
Walaupun satu slot kosong tak kalah berdebu
Udara tidak sesak dalam ruang jenuh

Dalam sebuah kemungkinan yang tidak pernah absolut
Bayangmu lucut seperti senja yang mustahil kurengkuh

Terjaga, terjerat, tanganku terikat
Pada arti yang tak kutahu makanya
Pada sajak yang tidak selesai baitny

Friday, September 2, 2016

pulang kantor 8 malam

Dalam kecepatan yang tak terasa
rokokku menyala-nyala.
Jembatan yang tak selesai,
jalan yang ditutup.

"Time it was and what a time it was, it was. 
A time of innocence, a time of confidences. 
Long ago it must be, I have a photograph 
Preserve your memories, they're all that's left you."

Rokokku hampir habis
ketika melewati rumah
yang sering kita singgahi
dulu.

Monday, August 29, 2016

bau rokok

terkejut kudapati bau rokok melekat di bajumu
dan tanpa lawan, menjemputku ke ladang bibirmu.

terkejut kudapati bau rokok melekat di jariku
dan tanpa lawan, mendapatimu duduk rapih di lipatan memoriku.

Sunday, April 10, 2016

fajar 3 pagi




Malam tidak bergegas walau ia memang beranjak,
dan fajar mempersiapkan diri menuju gelap langit.
Aku, berdiri di tengah keduanya,
perhatikan rokokku yang memekik-mekik kepanasan
Sedangkan dingin subuh menggoda kakiku untuk menyerah,
bersama dengan nyamuk-nyamuk jahanam yang kelaparan.

Dan aku hanya berpikir, bertanya dalam hati:
"Apakah fajar pernah merasa cemas
ketika ia harus pergi pada gelap walaupun tak ada siap?"
Karena, sepertinya, fajar memang tak merasa...
dan aku, baik kamu, bukanlah fajar.

Maka kuhisap lagi rokok yang sudah tidak enak ini
dengan pikiran yang akan hilang bersama malam
entah ke kasurku, atau ke kamarmu
karena ketika fajar datang
mungkin semua tidak akan penting lagi.


Ah... selamat tidur.



Monday, April 4, 2016

bingar



kukubur bingar di halaman rumahku,
tak ada satupun bahkan tumbuh di tanganmu.
karena jari sudah menjadi duri
dan beri hitam tercuri.

kusobek bingar dari buku getirku,
tak ada satupun bahkan terbisik di telingamu.
puluhan, mungkin ratusan...
atau mungkin hangat sudah tak lagi ada kesan?

Wednesday, March 30, 2016

03/14/2016




Dari pucuk matamu, nanah tersirat
Entah bulu mata, entah derita
Namun lebih banyak dusta.





Wednesday, March 16, 2016



Tak pernah kusangka,
tidak hanya riuh kembang api yang ada saat Tahun Baru,
atau canda silahturahmi yang langka,
namun juga datangnya dalam diam si peluru.



Tuesday, March 15, 2016

03/14/2016

Piano berdenting, crescendo.

Dan aku tak berharap demikian.

Karena sunyi mencekat, aku heran suara apa.

Apalah ini yang merayap di keheningan malam, tanpa berjaga, tanpa siaga?
Suara yang samar, bayang yang kelam. Siapa yang dicari, pun tak mengerti.

Bodoh, umpatku.

Namun toh ia tetap merayap, tumbuh, dan menetap. Pelihara pun tak seorang lakukan...

...kecuali rindu yang menyiram.

Kupandangi jalan dari jendela yang basah, hanya untuk mengingat kau dan sukmamu.
Dan bila malam kala itu tak berujung...

Dapatkah suara itu kurengkuh?


di belakang.



Gadis berkonde melewati sebuah rute
terhenti Ia di bawah pohon jaha.

pemuda berdiam mengambil foto,
menunggu merekah senyumNya bersuam.
Namun sebelum rana lepas,
sadar ia lebih baik berkemas.


Karena adanya pun, Ia tak ada ang g a p.