Wednesday, April 23, 2014
"what is it like?" you asked.
well,
it's like writing on a blank sheet of paper with a jammed pen, a pen that might either still have loads of ink on it, or it's running empty.
and you try to write something with it, but there is nothing to come out but some unseen marks,
which, only when you touch it, you will know, that you are scratching the paper, rather than trying to write something on it.
and you keep pushing it,
until finally,
either the pen is working, and (finally) leaves visible marks on the paper,
or, you rip the paper, and leave the paper worthless to be written on.
Sunday, April 20, 2014
highway romanticism
(*) kalau memungkinkan, sebelum membaca postingan dibawah, silakan dimainkan videonya, dan segera diberhentikan sebentar dan mohon tunggu sampai bufferingnya selesai. kalau sudah selesai, mainkan lagi videonya, dan Anda bisa memulai membaca post ini. biar apa? ya biar enak aja sihmungkin supaya moodnya dapet. hehe.
Aku selalu menyukai perjalanan malam hari di jalan tol. Aku selalu suka memandangi lampu-lampu penerangan yang berdiri di tengah jalur, juga lampu mobil-mobil yang berlalu lalang, sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Menurutku, mereka adalah kombinasi terindah.
---
Malam itu, terminal satu tampak begitu asing bagiku. Rasa asing ini memang seharusnya terasa wajar, karena aku pun baru pertama kali menjejakkan kakiku di sini, setelah sekian lama. Aku menyusuri koridor terminal, sambil melihat ke sekelilingku, berusaha mencari pintu keluar. Malam itu, taman di sekitar terminal menguatkan petrichor, membuatku nyaman, dan sebenarnya ingin berjalan melalui koridor terminal ini lebih lama lagi. Namun, aku rasa, aku pun tahu bahwa ada alasan yang lebih kuat untuk bergegas mencari pintu keluar dari terminal ini.
Pintu keluar terminal satu kini hanya selisih beberapa meter dari kakiku, namun aku memilih bergeming. Melihat melalui pintu kaca itu, aku mencari. Di antara orang-orang asing di sekitarku yang berlalu keluar, akhirnya mata kita bertemu. Akhirnya aku merasa familiar.
Aku pun segera keluar, dan mencari titik temu kita, dan aku yakin saat itu kamu pun sedang melakukan hal yang sama. Di antara hiruk pikuk orang-orang yang menyambut kedatangan orang-orang yang mereka kasihi, kita akhirnya menemukan titik itu: kita akhirnya bertemu, untuk pertama kalinya, secara sadar, secara nyata. Senyum yang seharusnya terasa asing, jabat tangan yang kaku, perkenalan yang tidak perlu, namun hanya melihat sosokmu di ruang itu, aku menemukan ikrab itu. Takjub dan gembira, momen-momen itu serasa blur bagiku antara yang mana yang real dan surreal.
---
Malam itu, kami melalui tol yang cukup panjang untuk mencapai pusat kota. Lampu-lampu penerangan tidak menjadi satu-satunya sumber cahaya untuk menerangi jalan tol itu. Lampu dari gedung-gedung pencakar langit ibukota, tampaknya ikut berlomba berebut perhatian pengendara mobil yang sedang melintasi jalan tol itu---walaupun sedikit terhalang oleh asap polusi kendaraan.
Malam itu, rasanya banyak sekali pertanyaan yang aku lontarkan untukmu, dan kamu pun sebaliknya. Kadang kita menanyakan pertanyaan di saat yang sama. Dan juga banyak jawaban, dan tentu juga banyak cerita, yang mungkin terlalu banyak untuk diceritakan saat itu juga. Kita hanya mencoba mengejar ketertinggalan kita, sambil bertukar canda, bertukar tawa, pun bertukar hening.
"Akhirnya ketemu juga, ya," katamu, memecah keheningan yang gagal menjalar di spasi kita. Aku melihat ke arahmu, dan kamu tersenyum ke arahku, yang membuat aku spontan tersenyum juga.
"Iya," jawabku. Aku melihat ke arah jalan, namun samar.
"Akhirnya ketemu juga," ulangku, seperti menyadarkan diriku sendiri bahwa momen ini nyata, dan aku, dan kamu, benar berada di dalamnya.
Malam itu, aku kehilangan minatku pada suasana jalan tol yang semestinya aku nantikan. Tentu saja, karena ada hal lain yang lebih indah dari itu semua.
Subscribe to:
Posts (Atom)
