Sunday, October 18, 2015

10/18/2015

Di ruang yang penuh sesak, kamu berdiri di tengahnya. Sakit menghujam kepalamu. Sudah kamu katakan kepada semua untuk meninggalkanmu sendiri. Namun bukannya sepi, malah ruang ramai dan menjadi semakin sempit.

Semakin sakit, entah dari cengkraman di perutmu, atau teriakan sepi yang merangkak dari dasar tenggorokanmu. Mungkin juga hantaman di kepalamu. 

Pejamkan mata, kamu berharap dengannya akan kurangi sakitnya. Namun bukannya menjadi lebih baik, ruang di sekitarmu pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Pecah, lalu jatuh perlahan-lahan.

Tidak menjadikannya semakin baik, kamu heran, kenapa kamu juga tidak pecah bersama ruang? Kenapa kamu juga tidak hancur seperti serpihannya yang jatuh ke dasar lantai?

Lalu ruang lama-lama menjadi putih, dengan kamu berada di tengahnya. Ruang yang kini putih, menjadikannya tampak luas, namun tetap mencekik. 

Dan kamu masih berharap kamu terurai dan hilang bersama yang dulunya sekitarmu.