Thursday, November 28, 2013
Sunday, November 10, 2013
ya, persetan.
matahari terlalu terik bersinar
tatkala manusia-manusia itu duduk
dan bercakap silih ganti
dan aku terlalu naif
untuk iba
matahari masih terlalu terik,
dan pandanganku mulai kabur…
berusaha meraih, apapun,
namun pun setetes air
takkan sanggup legakan dahaga,
maka kudapati diriku tersungkur
seakan memohon pada sang mentari
untuk segera turun
dan datangkan hujan,
atau mungkin malam.
matahari masih terik dan enggan
membayar impas janjinya,
sementara ricuh suara mereka semakin menjadi,
terlalu, kataku.
maka ketika kesadaranku kembali mendapati aku,
persetan dengan suara-suara itu,
dan mataharimu.
tatkala manusia-manusia itu duduk
dan bercakap silih ganti
dan aku terlalu naif
untuk iba
matahari masih terlalu terik,
dan pandanganku mulai kabur…
berusaha meraih, apapun,
namun pun setetes air
takkan sanggup legakan dahaga,
maka kudapati diriku tersungkur
seakan memohon pada sang mentari
untuk segera turun
dan datangkan hujan,
atau mungkin malam.
matahari masih terik dan enggan
membayar impas janjinya,
sementara ricuh suara mereka semakin menjadi,
terlalu, kataku.
maka ketika kesadaranku kembali mendapati aku,
persetan dengan suara-suara itu,
dan mataharimu.
Friday, April 5, 2013
pada apa aku berjalan, pada apa aku berpijak?
apa yang aku lewatkan, apa yang aku sisakan,
jika apa yang digenggam tak lagi menggenggam,
jika apa yang ditunggu tak lagi kembali,
jika tempat pulang sudah enggan menyambut,
apa lagi yang aku punya?
jadi, harus menggelandang kemana lagi aku?
apa yang aku lewatkan, apa yang aku sisakan,
jika apa yang digenggam tak lagi menggenggam,
jika apa yang ditunggu tak lagi kembali,
jika tempat pulang sudah enggan menyambut,
apa lagi yang aku punya?
jadi, harus menggelandang kemana lagi aku?
Monday, March 18, 2013
Saturday, February 2, 2013
feb 2nd's playlist
- Asthenia - Odi (Blink 182's cover)
- Behind the Drapes - Mew
- Wake Up Exhausted - Tegan and Sara
- Conspiracy - Paramore
- The New - Interpol
- Trouble - Coldplay
Friday, February 1, 2013
aku menyerah pada awan-awan kelabu
karena aku tidak sanggup melihat matahari
yang menetap di pusat jagad ini
karena ia membutakanku,
ia membakarku tanpa pilihan.
terlepas tentang segala yang benar dan tulus,
aku tenggelam dalam hangatnya, dan aku terlupa;
aku tersesat dalam pesonanya, dan aku terkecoh,
bahwa, cepat atau lambat,
kita akan terbakar,
hangus dan hancur menjadi partikel-partikel mikroskopik,
terpisah, dan terurai.
namun, untuk hari esok
akan selalu ada bintang-bintang berekor yang menemani,
selalu ada gelas yang penuh terisi,
dan minumlah sampai kakimu lemas, dan perutmu mual,
karena selalu akan ada bintang lain yang bersinar dari cahaya matahari,
yang tidak akan menyerah
untuk menetap
dan menatap gelapnya malam.
langit tentu akan menangis, menjerit,
dan menakuti
anak yang lugu itu,
bersembunyi
di bawah selimutnya, ketakutan,
tetapi ia tidak akan mati.
karena bintang itu akan memeluknya
dengan lengan-lengannya yang dingin
namun sinarnya yang sehangat matahari
akan sembuhkan ia,
sampai kemudian ia akan lupakan akan hari-hari yang berlalu,
ia akan dibutakan lagi dan dalam,
karena bintang itu akan ciptakan malam yang lebih tenang,
yang lebih terang,
sehingga bukan aku lagi yang bertengger di tepi rindunya
karena aku sudah menyerah pada gelap malam dan awan kelabu itu,
karena aku sudah menyerah untuk menatap matahari.
karena aku tidak sanggup melihat matahari
yang menetap di pusat jagad ini
karena ia membutakanku,
ia membakarku tanpa pilihan.
terlepas tentang segala yang benar dan tulus,
aku tenggelam dalam hangatnya, dan aku terlupa;
aku tersesat dalam pesonanya, dan aku terkecoh,
bahwa, cepat atau lambat,
kita akan terbakar,
hangus dan hancur menjadi partikel-partikel mikroskopik,
terpisah, dan terurai.
namun, untuk hari esok
akan selalu ada bintang-bintang berekor yang menemani,
selalu ada gelas yang penuh terisi,
dan minumlah sampai kakimu lemas, dan perutmu mual,
karena selalu akan ada bintang lain yang bersinar dari cahaya matahari,
yang tidak akan menyerah
untuk menetap
dan menatap gelapnya malam.
langit tentu akan menangis, menjerit,
dan menakuti
anak yang lugu itu,
bersembunyi
di bawah selimutnya, ketakutan,
tetapi ia tidak akan mati.
karena bintang itu akan memeluknya
dengan lengan-lengannya yang dingin
namun sinarnya yang sehangat matahari
akan sembuhkan ia,
sampai kemudian ia akan lupakan akan hari-hari yang berlalu,
ia akan dibutakan lagi dan dalam,
karena bintang itu akan ciptakan malam yang lebih tenang,
yang lebih terang,
sehingga bukan aku lagi yang bertengger di tepi rindunya
karena aku sudah menyerah pada gelap malam dan awan kelabu itu,
karena aku sudah menyerah untuk menatap matahari.
Subscribe to:
Posts (Atom)

