Sunday, July 26, 2015
15 Mei 2015, ditengah kecelakaan bus.
Aku mengusap lengan kiriku, gelisah. Kurasakan bagian dalam lenganku yang terasa kasar. Bekas suntikan seminggu yang lalu memang sudah tidak lagi berbekas, namun kuperhatikan pembuluh darahku yang pecah masih memberikan bekas yang samar, walau tidak sejelas hari-hari kemarin. Kuusap pelan bekas luka lainnya, yang nampaknya sudah mengering, berharap jika semakin lama kuusap, akan semakin cepat bekas-bekas luka ini hilang.
Sebenarnya tidak ada hal tertentu yang membuatku gelisah ataupun sedih, tetapi rasanya aku pun tidak sedang merasa senang. Herannya, pun tidak berharap aku merasa demikian.
Malam semakin larut, walaupun tidak semakin gelap. Jalanan sepi dan bis yang kutumpangi masih bergeming dari tempatnya. Di dalam bis yang hanya menyisakan 8 penumpang, aku hanya memandangi lampu bis yang dibiarkan menyala oleh penumpang yang duduk di depanku. Walaupun begitu, supir bis tidak menyalakan lampu utama bis yang berada di tengah, sehingga entah mengapa, apapun yang terlihat oleh mataku hanyalah warna hitam dan putih, serta gradasi antara keduanya. Bahkan setelah bis ini bertabrakan pun, supir tetap tidak menyalakan lampunya.
Dengan semua yang terjadi di sekelilingku, nyeri di kepalaku semakin terasa menusuk ke dalam. Aku bisa saja tidur sambil menunggu bis pengganti datang, tetapi mataku memutuskan untuk terjaga. Kuraih ponselku dan kunyalakan tanpa membuka tampilan kuncinya. Sepuluh lewat tiga puluh empat, mungkin ia sudah terlelap.
Kupejamkan mataku, dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja. Kuulangi berkali-kali, seperti jika aku mengatakannya terus menerus, aku akan menuruti perkataanku sendiri. Alih-alih, kurasakan badanku menolak sugestiku sendiri. Kepalaku semakin terasa sakit dan kini aku merasa leherku tercekat. Aku merasa ruang yang berada jauh di sekitarku semakin melebar, sedangkan ruang yang berada di sekelilingku semakin menyempit.
Aku tahu aku tidak baik-baik saja.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment